Sunday, July 17, 2011

AL Mahabbah

Jarang-jarang saya post tentang ini... tpi tdak apa lah...

MENGHAKIKIKAN CINTA ILAHI Alimuddin Apa itu cinta? Cinta dapat dirasakan, tetapi
sulit untuk didefinisikan. Persis seperti marah atau sedih. Setiap orang kadangkala marah, dan
pada saat yang lain bersedih. Sekalipun memahami ada marah dan sedih, definisi keduanya
amatlah sulit. Begitu pula cinta. Yang dapat ditangkap oleh indra secara langsung adalah
penampakannya atau mazhahirnya. Al ‘Alâmah Abi Fadhl Jamâlud Dìn Muhammad bin Mukram
menuliskan dalam kamusnya al hubb (cinta) artinya adalah lawan dari benci. Al hubb berarti pula
al wadâd dan al mahabbah. Semuanya berarti cinta (Lisân al ‘Arâb, Jilid I, halaman 289, pada
akar kata ). Cinta berarti pula kecenderungan alami pada sesuatu yang lezat, enak, nyaman, suka,
dan senang. Kamus al Munjid fì al Lughâh wa al I’lâm menyebut cinta (al mahabbah) sebagai .
Secara realitas, dalam kata ‘cinta’ terkandung rasa suka, sayang, terpikat, ingin, rindu,
pengharapan, sedih, dan ingat (Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, bagian kata ‘cinta’).
Walhasil, cinta merupakan kecenderungan dan rasa; baik rasa suka, sayang, terpikat, ingin, rindu,
pengharapan, sedih, dan ingat dari pencinta kepada yang dicintai. Karenanya, berbicara cinta
berarti berbicara tentang sesuatu yang terkait dengan rasa. Cinta tak dapat dilihat. Hanya tandatanda
dan penampakkannyalah yang dapat disaksikan. Cinta tidak dapat berdiri sendiri. Terdapat
beberapa hal terkait dengan cinta tersebut, yaitu (1) yang mencintai (habîb), (2) yang dicintai
(mahbûb), (3) cara mencintai. Cara ini ada dua, pertama, apa yang ada didalam jiwa secara
internal (dâkhil). Kedua, penampakan lahiriyah yang dapat disaksikan dengan kasat mata
(mazhâhir). Cinta yang benar adalah cinta yang diberikan oleh yang mencintai kepada yang
dibenarkan untuk dicintai dengan cara yang juga benar, baik internal dalam jiwanya maupun
penampakkannya. Jika dan hanya jika semua komponen tersebut benar maka cinta akan benar.
Sebaliknya, salah satu saja komponen tersebut rusak atau tidak benar maka cinta pun menjadi
tidak benar. Tolok Ukur Cinta Hakiki Sering kali seseorang terjebak pada hayalannya sendiri.
Ia menganggap mencintai sesuatu, berjuang untuknya, tapi sebenarnya apa yang ia cintai itu
adalah suatu keburukan yang dianggapnya kebenaran. Hal demikian adalah wajar belaka bila
tolok ukurnya adalah logika atau bahkan hawa nafsu masing-masing manusia. Anak cucu Adam
kerap mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk, dan sering pula membenci sesuatu yang
sebenarnya baik baginya. Karenanya, penilaian logika atau hawa nafsu manusia bukanlah tolok
ukur penentu kebenaran. Allah SWT berfirman: Diwajibkan atas kamu berperang, padahal
berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia
amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (TQS. Al Baqarah[2]:216). Boleh jadi ada
yang mengatakan bahwa logika manusia itu memang bukan tolok ukur kebenaran bila individual.
Tapi, bila logika tersebut didasarkan kepada suara mayoritas, maka suara mayoritas itulah yang
merupakan tolok ukur kebenaran. Alasan tersebut sebenarnya amatlah rapuh. Realitas membantah
hal tersebut. Sebagai contoh, ketika disodorkan suatu pertanyaan apakah pergaulan bebas anda
setujui? Kalau orang-orang yang ditanya tersebut para pelaku pergaulan bebas, percayalah
mayoritas mereka akan menyetujuinya. Persetujuan mayoritas tersebut tidak bermakna pergaulan
bebas sebagai tindakan benar. Tetapi lebih merupakan sikap dari orang-orang yang ditanya
tersebut, bukan merupakan bukti bahwa pergaulan bebas itu benar. Atau barangkali anda pernah
menyatakan bahwa pelacuran harus dihentikan, termasuk lokalisasi harus dibubarkan. Lalu
dilakukan penelitian di tempat-tempat lokalisasi. Respondennya para pengurus atau penghuni
lokalisasi. Tentu saja, penarikan contohnya menggunakan statistika dengan multistage random
sample. Kalaupun hasilnya menunjukkan mayoritas responden menyatakan setuju pelacuran,
apakah berarti pelacuran itu dapat dibenarkan? Tentu, tidak. Lebih dari itu, kebanyakan manusia
dikatakan oleh Sang Pencipta manusia merupakan penganut tindakan negatif. Mayoritas bukanlah
penentu kebenaran. Banyak sekali firman Allah SWT mengenai hal ini, diantaranya: Bahkan
sebahagian besar dari mereka tidak beriman (TQS. Al Baqarah[2]:100). Tetapi kebanyakan
mereka tidak mengetahui” (TQS. Al An’âm[6]:37). Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui
(TQS. Al An’âm[6]:111). Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur/ta`at
(TQS. Al A’râf[7]:17).
Materi Disampaikan pada Pengajian Rutin, Jumat, 21 November 2008,di Lt2 Gedung
DKSI IPB Bogor 2
Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami
mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik (TQS. Al A’râf[7]:102). Akan
tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (TQS. Al A’râf[7]:131). Dan kebanyakan
mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak
sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang mereka kerjakan (TQS. Yûnus:36). Dan sebahagian besar dari mereka tidak
beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan
sembahan-sembahan lain (TQS. Yûsuf[12]:106). Sebenarnya kebanyakan mereka tiada
mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling (TQS. An Nahl[16]:24). Atau apakah
kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu
tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari
binatang ternak itu) (TQS. Al Furqân[25]:44). Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak
beriman (TQS. Asy Syu’âra:8). Tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya (TQS. Al
‘Ankabut:63). Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan
Allah (TQS. Ar Rûm[30]:42). Yang membawa berita gembira dan yang membawa
peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau)
mendengarkan (TQS. Fushilat:4). Nyatalah kebanyakan manusia tidak beriman, tidak
mengetahui, tidak bersyukur/ta`at, orang-orang yang fasik, tidak mengikuti kecuali
persangkaan saja, tiada mengetahui yang hak, tidak mendengar atau memahami,
mempersekutukan Allah, dan mereka berpaling. Berdasarkan ayat-ayat tersebut, tolok
ukur kebenaran bukanlah logika ataupun hawa nafsu manusia, baik bersifat individual
maupun secara kolektif dengan suara mayoritas. Tolok ukur tersebut hanyalah wahyu
yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Tolok ukur itu adalah hukum syara. Firman-
Nya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat
keras hukuman-Nya (TQS. Al Hasyr[49]:7). Tolok ukur cinta yang benar pun sama, yaitu
hukum syara. Segala bentuk cinta yang dibenarkan oleh syara adalah benar. Sebaliknya,
semua cinta yang dilarang oleh syara merupakan cinta yang keliru. Cinta kepada anak
diperintahkan, tetapi kecintaan tersebut akan menjelma menjadi malapetaka bila justru
menghalangi kecintaan kepada Allah SWT. Cinta kepada harta adalah wajar selama hati
tidak tertambat kepadanya. Tapi, persoalan menjadi lain apabila kita diperbudak harta.
Waktu habis untuk mencari harta. Tenaga dikerahkan semata untuk uang. Prestasi dikejar
hingga ke ujung dunia. Tak pernah ada keluh kesah, atau dalih yang dikemukakan.
Giliran mendalami Islam, membela Islam, berjuang demi Islam dan umatnya, atau
menanamkan ruh Islam kedalam jiwa anak-anaknya, berbagai dalih pun muncul. Alasan
datang dengan sendirinya. Berbagai logika penolakan diungkapkan dengan fasih.
Semuanya atas nama cinta. Bila gejala ini menyapa kita, sadarlah anda sedang terserang
godaan cinta palsu yang dibisikkan setan. Bersegeralah istighfar! Penghalang Cinta Cinta
kepada Allah bukanlah jalan tol. Senantiasa ada halangan dan rintangannya. Kita tentu
pernah mengalami saat hendak mencintai istri/suami. Inginnya kita membelikan baju
baru, tapi apa daya uang tidak ada. Inginnya mencari ilmu tapi baru sebentar membaca
rasa ngantuk segera tiba. Kalaupun tetap membaca, tambahan pengetahuan tidak ada.
Apa yang dibaca tidak dapat dimengerti. Atau, baru saja siap mendalami ilmu, dari
tengah rumah anak berteriak memanggil-manggil ingin digendong. Walhasil, ada 1001
macam halangan saat ingin mewujudkan cinta. Mulai dari halangan ringan hingga
teramat berat. Namun, tidak perlu terlalu khawatir. Sebab, bila paham apa penghalang
tersebut dan bagaimana cara mengunggulinya Allah SWT akan membantu kita meraih
cinta kepada-Nya. Cobalah hayati agar anda dapat benar-benar merasakannya.
Penghalang cinta kepada Allah SWT setidaknya ada dua jenis. Secara internal berupa
hawa nafsu, dan secara eksternal berupa setan. Keduanya merupakan musuh yang dapat
memalingkan siapapun dari kecintaan kepada Allah SWT. Dia berfirman:
Materi Disampaikan pada Pengajian Rutin, Jumat, 21 November 2008,di Lt2 Gedung
DKSI IPB Bogor 3
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu
selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (TQS. Yûsuf[12]:53).
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah
musuh yang nyata bagimu (TQS. Al Baqarah[2]:168). Menghadapi Penghalang
Disamping menegaskan siapa pihak yang merupakan musuh nyata bagi kaum mukmin,
Allah Rabbul ‘Âlamîn memaparkan tindakan-tindakan mereka berkaitan dengan sikap
permusuhannya tersebut. Aktivitas penting yang mereka perbuat adalah berupaya
memalingkan manusia dari kebenaran dan menjadikannya kafir kembali. Hal ini dapat
dipahami dalam firman-Nya: Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan;
sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu (TQS. Az Zukhruf [43]:62). Jika
mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan
melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan mereka
ingin supaya kamu (kembali) kafir (TQS. Al Mumtahanah [60]:2). Mereka yang
menetapkan dirinya sebagai musuh nyata bagi kaum mukmin harus dijadikan sebagai
musuh. Begitu perintah Allah SWT. Dia Dzat Maha Mulia menyatakan bahwa setan yang
terdiri dari jin dan manusia itu adalah musuh, maka anggaplah ia musuh (mu), karena
sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi
penghuni neraka yang menyala-nyala (lihat surat Fâthir [35]:6). Bila, tidak, tentu kita
akan tertipu. Untuk itu Allah SWT dalam surat Al Kahfi [18] ayat 50, Al Mumtahanah
[60] ayat 1 dan ayat-ayat senada lainnya melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai
wali (pelindung, penolong, pemimpin, pembantu, tangan kanan). Bahkan, penampilan
mereka betapa mengagumkan, perkataannya pun menarik perhatian dan seringkali
didengarkan, namun Allah SWT mengingatkan untuk mewaspadai kaum munafik
tersebut (lihat surat Al Munâfiqûn [63]:4). Ketika kaum kafir dan munafik terus
berkonspirasi untuk memalingkan kaum Mukmin dari kebenaran, dan berupaya
memadamkan cahaya-Nya, selama itu pula kaum Mukmin dituntut menjadi penolong
agama Allah. Pertarungan antara haq dengan batil pun terus berlangsung. Namun, Allah
SWT berjanji akan menolong dan mengokohkan kaum Mukmin serta memenangkan
mereka, Islam pun dijadikan-Nya mengungguli yang lain, cahaya-Nya Dia sempurnakan.
Allah SWT menegaskan: Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah
dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya
meskipun orang-orang kafir benci (TQS. Ash Shaff[61]:14). Maka kami berikan kekuatan
kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi
orang-orang yang menang (TQS. Ash Shaff[61]:14). Sementara itu kelak mereka di
akhirat mendapatkan siksa yang pedih di neraka akibat perbuatan yang mereka pilih itu.
Allah SWT menegaskan: Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah digiring ke
dalam neraka lalu mereka dikumpulkan semuanya (TQS. Fushshilat [41]:19).
Demikianlah materi ini semoga Allah memberi hidayah kepada kita termasuk orangorang
yang senangtiasa cinta kepada Allah Swt serta Penghalangnya pun dapat diatasi
dengan ijin Allah Zat Maha Perkasa. Hasilnya adalah cinta hakiki pada Ilahi.

1 comments:

Thaaa said...

^_^
Nice ...